[[
Analisis Kehidupan ala "Bajaj Bajuri" ]]
HANYA orang "abnormal" yang tidak bisa tertawa saat menonton sinetron Bajaj Bajuri yang banyak digemari semua lapisan masyarakat.
Sinetron tersebut menggambarkan kehidupan Bajuri (Mat Solar) sebagai sopir bajaj yang mempunyai istri Oneng nan cantik (Rieke Dyah Pitaloka) dan masih menumpang di rumah mertuanya (Nani Widjaja) dalam komunitas marjinal perkotaan sebagai titik sentral cerita tersebut. Ibu Hindun yang bersuamikan Pak Yanto, janda tanpa anak, Empok Minah dengan anak laki-lakinya bernama Sahili menjadi pelengkap sinetron ini.
Pemeran dalam sinetron ini tidak banyak, tetapi sebagian besar mereka cukup bagus dalam menampilkan kesederhanaan, kepolosan kehidupan sehari-hari masyarakat marjinal perkotaan. Selain pemeran utama, juga ditampilkan dua perempuan muda sebagai pengunjung salon Empok Oneng. Dua pemuda, Said dan Ucup, yang kadang- kadang bekerja menjadi tukang ojek melengkapi komponen masyarakat dalam komunitas tersebut.
Dalam sinetron ini digambarkan dua laki-laki, yaitu Ucup dan Bajuri, yang selalu saja sial, kurang beruntung, pendapatannya rendah, sehingga mereka selalu berutang pada warung Empok Leha, yang sekaligus merupakan tempat bergosip dalam komunitas tersebut. Lingkungan masyarakat itu juga dilengkapi tokoh Pak RT yang sering kali dipanggil Te, laki-laki kecil yang istrinya jauh lebih besar dari dirinya.
Sutradara sinetron ini mencoba menampilkan potret keluguan masyarakat marjinal perkotaan dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan impitan dan derita hidup yang semakin berat dengan "tetap tertawa". Ironisnya masyarakat seolah kecanduan dengan sinetron ini sehingga menempati rating papan atas dalam waktu relatif lama. Padahal, tertawa pada Bajaj Bajuri kali ini terjadi akibat eksploitasi kelemahan perempuan dan laki-laki secara artifisial, simultan, baik secara horizontal maupun vertikal.
Pencitraan negatif perempuan dan laki- laki yang berlebihan melalui Oneng sebagai perempuan muda cantik tetapi bloon, Emak yang sok kuasa, tak pernah salah dan mengalah, disandingkan dengan Bajuri yang serba salah dan bodinya selalu menjadi bahan tertawaan serta Ucup, pemuda lajang berkulit hitam, selalu tidak mujur, disia-sia, dan gagal bila mendekati gadis merupakan ikon yang terus dipertahankan.
Pertanyaannya, mengapa hiburan yang tidak sehat, tendensius, dan mendiskreditkan tersebut terus bertahan? Apakah karena masyarakat kita sedang sakit sehingga tertawa yang tidak sehat pun dilakukan? Argumen ini mungkin tidak sepenuhnya diterima penulis skenario karena bisa saja dia berargumen film ini merupakan pelajaran bagi siapa saja agar jangan sampai keluarganya menjadi tertawaan orang lain.
BAJURI sebagai laki-laki dan menantu Emak dari awal sinetron sampai saat ini selalu menjadi bahan tertawaan dan dapat dikatakan tidak pernah mendapat pujian atau nilai baik dari Emak. Kata-kata Emak, " Juri-juri udah gendut…, " tidak jarang muncul dan kemudian disambut dengan sisipan suara tertawa terbahak-bahak. Demikian pula umpatan, "Lu, cuma sopir bajaj", seolah merendahkan martabat para sopir bajaj melalui brain wash yang semestinya tidak dilakukan.
Sopir bajaj dianggap sesuatu sangat rendah sehingga Emak merestui ketika ada laki-laki lain mendekati Oneng. Memang situasi tersebut dapat ditemukan di masyarakat, mungkin pula penggambaran seperti itu tidak keluar dari "pakem" pembuatan media untuk dramatisasi cerita. Namun, pertanyaannya, apakah cara lain yang lebih sehat, adil untuk tetap membuat penonton tertawa.
Kekerasan fisik, psikologis, dan ekonomi dalam bentuk kata-kata hinaan dari mertua terhadap menantu yang posisi ekonomi dan sosialnya rendah karena masih menumpang di rumahnya menjadi keprihatinan semua pihak. Dengan kesalahan kecil saja Bajuri dikejar dengan membawa sapu, dicekik, dan juga disiram air, ketika kompornya terbakar. Emak tidak segan-segan menghina, mencaci, mengumpat. Bahkan ketika Bajuri sakit sekalipun, Emak tidak pernah peduli bahkan dengan ke-"sirikan"-nya justru bangga bisa membuat menantunya sengsara.
Ironisnya, Bajuri digambarkan selalu pasrah saja terhadap tindakan Emak. Dia menjadi subordinat karena posisi, kondisi, serta bentuk fisiknya kurang ideal.
Selain Bajuri, Oneng merupakan korban kekerasan fisik dan psikologis setiap waktu yang kedua. Masyarakat mungkin banyak menganggap perlakuan Bajuri terhadap Oneng sesuatu yang normal, apalagi Oneng juga menerima saja subordinasi maupun kekerasan psikologis yang diterimanya.
Bajuri dengan sangat biasa mengatakan Oneng itu "Oon" sebagai samaran bloon sekalipun secara ekonomi Oneng bisa mandiri. Beberapa kali Oneng memberi uang tabungannya ketika Bajuri perlu untuk membeli spare-part bajaj. Namun, kontribusi itu tidak pernah dihargai. Bahkan, ketika Bajuri sakit Oneng menggantikan suaminya "narik" (bajaj).
Kita dapat mencermati bagaimana cara Bajuri minta dibuatkan kopi ke Oneng dengan melempar bajunya ke tubuh Oneng. Sekali lagi mungkin itulah gambaran masyarakat kita saat ini, tetapi akan lebih baik apabila both cover side bisa ditampilkan?
Memang ada kekhawatiran akan mengurangi tingkat kelucuan apabila hal-hal yang lebih baik ditampilkan, tetapi bukankah hal ini merupakan tantangan bagi insan media untuk menggambarkan sesuatu yang "benar" sekaligus dapat menghibur.
BAJAJ Bajuri bagi mereka yang menaruh perhatian pada penghapusan kekerasan dalam rumah tangga sangat "bermanfaat". Sinetron ini memberi gambaran secara sederhana, jelas, dan konkret tentang berbagai bentuk kekerasan, khususnya kekerasan dalam rumah tangga yang penyebabnya adalah ketidaksetaraan posisi antara Emak dan Bajuri, antara Bajuri dan Oneng.
Kekerasan bertingkat dari Emak ke Bajuri, dari Bajuri ke Oneng, menjadi pelajaran berharga untuk mengantisipasi terjadinya eksploitasi dan penekanan berseri yang kuat terhadap yang lemah yang muaranya pada perempuan dan anak.
Gambaran stereotip menjadi pelengkap unsur "mendidik" dari sinetron ini melalui menangisnya Oneng saat menerima perlakuan buruk dan saat menghadapi persoalan berat dan rumit. Saat menggantikan suaminya sebagai sopir Bajaj pun, Oneng harus menggunakan pakaian laki-laki.
Pertanyaannya, apakah perempuan tidak boleh menjadi sopir bajaj? Apabila sinetron ini semata untuk hiburan mungkin dapat dikatakan sukses, tetapi efek sampingannya sangat luar biasa yaitu melembagakan kekerasan dalam rumah tangga, seperti yang selalu diterima Bajuri, Oneng, dan Ucup.
Tidak kalah berbahayanya juga kejailan, kedengkian, dan perilaku negatif Emak yang merajalela, tetapi hampir selalu dia yang beruntung. Bajaj Bajuri memberi gambaran atau potret kualitas masyarakat sasaran yang rendah. Disuguhkan sesuatu yang mudah ditangkap, tidak perlu berpikir, cepat tertawa.
Bagi sebagian masyarakat yang mau berpikir akan merasa sayang dengan biaya yang tinggi hanya menghasilkan "tawa" yang miskin edukasi. Sajian berbagai bentuk bias jender, subordinasi, marjinalisasi bukan paparan yang bagus untuk keluarga, khususnya anak-anak. Hanya sebagian sasaran yang mungkin bisa menjaring pesan Bajaj Bajuri, tetapi sebagian penonton menelan begitu saja. Menerima pesan sebagai suatu yang benar adanya dan tidak haram hukumnya bila perilaku negatif diadopsi.
Kekerasan fisik maupun psikologis yang dilakukan Emak terhadap Bajuri ketika menyuruh Oneng bercerai dengan Bajuri merupakan contoh kekerasan psikologis di masyarakat. Permintaan tersebut menyebabkan Oneng secara psikologis tertekan. Sangat mahal apabila media "sekadar" menyuguhkan hiburan, bahkan menjadikan bentuk kekerasan sebagai bahan tertawaan.
Para penulis skenario media audiovisual hendaknya berhati-hati dalam membuat substansi produknya agar tidak terjadi stereotip, subordinasi, dan domestikasi perempuan atau laki-laki. Apabila terpaksa harus menampilkan, sebaiknya dibuat proporsional, tidak diskriminatif terhadap perempuan saja, tetapi kadang-kadang juga terhadap laki-laki.
Mungkin akan menjadi lebih menarik bila dalam satu kejadian Bajuri dalam posisi untung dan Emak sekali waktu kena batunya akibat ulahnya sendiri. Memosisikan Bajuri sebagai orang yang tidak harus selalu kalah meskipun "hanya" sebagai sopir Bajaj menjadikan film ini semakin kaya dengan nilai edukasi tanpa mereduksi nilai tawa sinetron ini. Counter tindakan negatif Emak oleh pihak lain, seperti Bajuri, dapat mereduksi perlakuan kekerasan dalam rumah tangga.
Oneng sekali waktu dengan ke-bloonannya secara kebetulan dapat saja berkontribusi dalam pengambilan keputusan yang tepat. Saat Emak meminta dia bercerai dapat dijadikan momen melakukan perlawanan, sekalipun posisinya lebih tinggi.
Tidak salah menyampaikan situasi, kondisi, tindakan, nilai yang buruk asal dibuat penegasan bahwa hal tersebut tidak terus menerus diberikan pembenaran.
Bajaj Bajuri masih diharapkan oleh banyak pemirsa, tetapi Bajaj Bajuri yang lebih memberikan pencerahan dan pendidikan menuju kesetaraan, nondiskriminasi, penghapusan KDRT, menyampaikan sesuatu yang edukatif dan tetap lucu merupakan tantangan bagi sineas untuk memperluas ruang eksplorasi, memperkaya proses kreatif agar tidak terpaku hal-hal konvensional. Jika tidak, Bajaj Bajuri memang harus diganti agar tidak terjadi pelembagaan kekerasan.
Barkah
let the night fall at
10:51